Sabtu, 14 Februari 2015

Audit EDP

A.    Definisi Audit EDP
Pengolahan Data Elektronik (PDE) atau Electronic Data Processing (EDP) adalah manipulasi dari data ke dalam bentuk yang lebih berarti berupa suatu informasi dengan menggunakan suatu alat elektronik, yaitu komputer.
B.     Jenis Audit EDP
Berdasarkan luasnya penggunaan computer dan data yang dihasilkannya Audit EDP diklasifikasikan menjadi 4 jenis, antara lain :
a.    Audit disekitar Komputer
Jenis audit ini dilakukan oleh auditor terhadap hardcopy yang dihasilkan computer. Sedangkan komputernya sendiri tidak disentuh.
Kelemahannya:
  • Umumnya data base mencakup jumlah data yang banyak dan sulit untuk ditelusuri secara manual
  • Tidak membuat auditor memahami sistem computer lebih baik
  • Mengabaikan pengendalian sistem, sehingga rawan terhadap kesalahan dan kelemahan potensial dalam system.
  • Lebih berkenaan dengan hal yang lalu dari pada audit yang preventif
  • Kemampuan computer sebagai fasilitas penunjang audit mubazir
  • Tidak mencakup keseluruhan maksud dan tujuan audit.
b.    Audit dengan computer
Jenis audit ini ditinjau dari auditor yang menggunakan bantuan computer dalam melakukan audit. Karena itu, organisasi yang di audit mungkin belum menggunakan computer tetapi auditor dalam melakukan audit dibantu oleh computer, yaitu ketika menyusun kertas kerja pemeriksaan dan laporan hasil audit.
c.    Audit melalui computer
Jenis audit yang dilakukan terhadap organisasi yang telah menggunakan computer dalam memproses informasinya, baik secara sempit dan sederhana maupun secara luas dan canggih. 
d.   Teknik Audit Berbasis Komputer (Computer Assisted Audit Techniques CAAT)
Merupakan jenis audit yang dilakukan dengan bantuan software computer baik yang dibuat sendiri ataupun program paket yang disebut dengan GAS (General Auidt Software).
Manfaat GAS:
a.       memungkinkan auditor memiliki tingkat independensi yang tinggi
b.       mengurangi keperluan tingkat keahlian computer dan pelatihan
c.        dapat mengakses berbagai catatan klien tanpa program khusus
d.      memungkinkan auditor mengendalikan pelaksanaan program
e.       memanfaatkan kecepatan dan keakuratan computer
Kelemahannya :
a.       dirancang untuk kemudahan implementasi tapi mengabaikan efisiensi
b.      banyak GASP hanya berfungsi pada computer tertentu

C.    Bentuk dan Teknik Audit EDP
a.        Bentuk Audit EDP
EDP Audit sesuai dengan kebutuhannya dilakukan dalam berbagai bentuk yaitu sebagai berikut:
a.       Sebagai bantuan terhadap tim audit dengan tujuan selain EDP Audit, seperti bantuan terhadap tim audit yang sedang mengaudit laporan keuangan dan bantuan terhadap tim audit investasi.
b.      Sebagai bentuk pemeriksaan kinerja atau tujuan tertentu lainnya, secara tersendiri pada bagian EDP.
c.       Sebagai bentuk pemeriksaan atas pusat jasa computer, yang bertujuan menjamin kecukupan pengendalian pada pusat jasa computer.

b.        Teknik Audit EDP
Teknik EDP Audit yang dilakukan untuk mengaudit organisasi yang telah menggunakan computer adalah:
a.       Teknik (Integrated Test Facility ITF), penggujian ini dilakukan dengan cara menumpangkan catatan fiktif pada proses normal perusahaan yang diberi tanda tertentu agar nantinya dapat dipisahkan dari data formal perusahaan, seperti memasukkan pegawai fiktif pada pemprosesan penggajian normal.
b.      Teknik Embedded Audit Routine (EAR), dilakukan dengan memasukkan program ke dalam program aplikasi yang dijalankan untuk mengambil data secara berkala.
c.       Teknik Extended Record, yang mirip dengan teknik embedded menuntut pengetahuan computer yang tinggi karena berkaitan dengan pemrograman.
d.      Teknik snapshot, memodifikasi program guna mengambil data yang menarik pada suatu untuk di riview dan di analisis.
e.       Teknik penelusuran, dilakukan melalui penelusuran perintah-perintah tertewntu yang dilaksanakan.
f.       Teknik review sistem dokumentasi, dilakukan dengan meriview dokumentasi kegiatan bagian komputer, termasuk dokumentasi sistem dan aplikasi yang telah dibuat dan berlaku untuk pemrosesan data.
g.      Teknik control flowcharting, menurut teknik ini auditor menguji keberadaan pengendalian pada suatu program dengan membuat bagan arus pengendalian atas program yang dianalisis.
D.    Standart Audit EDP
Standar Audit Sistem Informasi yang berlaku untuk para pemegang sertifikat CISA (Certified of Information System Auditors) adalah standar alternatif yang dapat dipakai, yang di SPAP sendiri telah ada standar yang mengatur pemeriksaan terhadap perusahaan yang telah secara luas menggunakan computer, tetapi belum mengatur standar pemeriksaan secara keseluruhan, Standar tersebut adalah:
a.       SA Seksi 314 mengenai penentuan resiko dan pengendalian internal-pertimbangan karakteristik sistem informasi computer.
b.      SA Seksi 327 mengenai teknik audit berbantuan computer.
c.       SA Seksi 335 mengenai auditing dalam lingkungan sistem informasi computer.
d.      SA Seksi 343 mengenai lingkungan syitem informasi komputer-komputer mikro berdiri sendiri.
e.       SA Seksi 344 mengenai lingkungan sistem informasi komputer-online komputer sistem.
f.       SA Seksi 345 mengenai lingkungan sistem informasi komputer-database sistem.

E.     Perbedaan Sistem Audit Manual dan Audit EDP
1.       Visibility
a.       Auditor tidak akan mampu melihat formulir transaksi yang diproses oleh komputer. Karena setiap terjadi transaksi dapat langsung dimasukkan ke komputer dan langsung diproses yang hasilnya otomatis mempengaruhi laporan keuangan.
b.      Auditor tidak dapat melihat bagaimana komputer memproses transaksi, melakukan perhitungan, pemindahbukuan dan lain-lain. Buktinya pun tidak dapat dilihat.
c.       Komputer dapat memproses suatu transaksi secara serentak untuk memenuhi beberapa tujuan. Misalnya, pencatatan produk yang sudah siap serentak dengan pencatatan persediaan harga pokok per unit dan lain-lain. Kita tidak memiliki bukti tentang proses yang dilaluinya.
2.       Saran dan fasilitas
Berbeda dengan sistem manual, sistem komputer yang besar memerlukan sistem ruang peralatan, perawatan dan fasilitas yang khusus pula.
3.        Personalia
Sistem komputer memerlukan perangkat keras, perangkat lunak dan pegawai yang ahli serta terlatih sesuai dengan bidangnya.
4.        Pemisahan tugas
Dalam sistem komputer, kegiatan mengumpulkan dan memproses data dipusatkan di bagian komputer. Karena itu, individu yang bersangkut paut dengan komputer mungkin diperlukan dalam sistem komputer untuk mencapai tujuan pengendalian yang biasanya dicapai melalui pemisahan fungsi di dalam sistem manual.
5.       Kemungkinan terjadinya kesalahan dan kecurangan
Menurunnya keterlibatan manusia dalam penanganan transaksi yang diproses oleh komputer dapat mengurangi kemungkinan untuk mengamati kesalahan dan kecurangan. Kesalahan atau kecurangan yang terjadi selama perancangan ataupun perubahaan program aplikasi dapat tetap terdeteksi untuk jangka waktu yang lama.
6.        Kemungkinan meningkatnya supervisi manajemen
Tersedia untuk tinjauan ulang manajemen dengan lebih tepat waktu jika informasi semacam itu dikomputerisasi. Berbagai aplikasi terprogram menyediakan statistik menyangkut operasi komputer yang dapat digunakan untuk memantau proses transaksi yang sesungguhnya.
7.       Pemrakarsa atau pelaksanaan transaksi dengan komputer
Otorisasi transaksi atau prosedur ini mungkin tidak didokumentasikan dengan cara yang sama dengan yang diprakarsai dalam sistem akuntansi manual dan otorisasi manajemen atas transaksi tersebut mungkin tersirat dalam persetujuan atas rancangan sistem komputer tersebut.
F.     Pengendalian Umum dan Pengendalian Aplikasi Audit EDP
Pada dasarnya, Audit Sistem Informasi dibedakan menjadi dua kategori, yaitu:
1.      Pengendalian Aplikasi (Application Control)
Tujuan pengendalian aplikasi dimaksudkan untuk memastikan bahwa data di-input secara benar ke dalam aplikasi, diproses secara benar, dan terdapat pengendalian yang memadai atas output yang dihasilkan. Dalam audit terhadap aplikasi, biasanya, pemeriksaan atas pengendalian umum juga dilakukan mengingat pengendalian umum memiliki kontribusi terhadap efektifitas atas pengendalian-pengendalian aplikasi.
2.      Pengendalian Umum (General Control)
Tujuan pengendalian umum lebih menjamin integritas data yang terdapat di dalam sistem komputer dan sekaligus meyakinkan integritas program atau aplikasi yang digunakan untuk melakukan pemrosesan data.
PENGENDALIAN UMUM
Pengendalian umum pada perusahaan dilakukan terhadap aspek fisikal maupun logikal. Aspek fisikal dilakukan terhadap aset-aset fisik perusahaan, sedangkan aspek logikal terhadap sistem informasi di level manajemen (misal: sistem operasi). Pengendalian umum sendiri digolongkan menjadi beberapa, diantaranya:
a)         Pengendalian organisasi dan otorisasi.
Yang dimaksud dengan pengendalian organisasi adalah secara umum terdapat pemisahan tugas dan jabatan antara pengguna sistem (operasi) dan administrator sistem (operasi). Dan juga dapat dilihat bahwa pengguna hanya dapat mengakses sistem apabila memang telah diotorisasi oleh administrator.
b)         Pengendalian operasi.
Operasi sistem informasi dalam perusahaan juga perlu pengendalian untuk memastikan sistem informasi tersebut dapat beroperasi dengan baik selayaknya sesuai yang diharapkan.
c)          Pengendalian perubahan.
Perubahan-perubahan yang dilakukan terhadap sistem informasi harus dikendalikan, termasuk pengendalian versi dari sistem informasi tersebut, catatan perubahan versi, serta manajemen perubahan atas diimplementasikannya sebuah sistem informasi.
d)         Pengendalian akses fisikal dan logikal.
Pengendalian akses fisikal berkaitan dengan akses secara fisik terhadap fasilitas-fasilitas sistem informasi suatu perusahaan, sedangkan akses logikal berkaitan dengan pengelolaan akses terhadap sistem operasi sistem tersebut (misal: windows).
PENGENDALIAN APLIKASI
Pengendalian aplikasi adalah prosedur-prosedur pengendalian yang didisain oleh manajemen organisasi untuk meminimalkan resiko terhadap aplikasi yang diterapkan perusahaan agar proses bisnisnya dapat berjalan dengan baik.
a.      Macam Aplikasi
Aplikasi berwujud perangkat lunak, yang dapat dibagi menjadi dua tipe dalam perusahaan untuk kepentingan audit PDE:
§  Perangkat lunak berdiri sendiri
Terdapat pada organisasi yang belum menerapkan SIA dan sistem ERP, sehingga masih banyak aplikasi yang berdiri sendiri pada masing-masing unitnya. Contoh: aplikasi (software) MYOB pada fungsi akuntansi dan keuangan.
§  Perangkat lunak di server
Tedapat pada organisasi yang telah menerapkan SIA dan sistem ERP. Aplikasi terinstall pada server sehingga tipe struktur sistemnya memakai sistem client-server . Client hanya dipakai sebagai antar-muka (interface) untuk mengakses aplikasi padaserver.
b.      Macam Pengendalian Aplikasi
a.      Pengendalian Organisasi dan Akses Aplikasi
Pada pengendalian organisasi, hampir sama dengan pengendalian umum organisasi, namun lebih terfokus pada aplikasi yang diterapkan perusahaan. Siapa pemilik aplikasi, tugas administrator, pengguna, hingga pengembangan aplikasi tersebut.
Untuk pengendalian akses, terpusat hanya pada pengendalian logika saja untuk menghindari akses tidak terotorisasi. Selain itu juga terdapat pengendalian role based menu dibalik pengendalian akses logika, dimana hanya pengguna tertentu saja yang mampu mengakses menu yang telah ditunjuk oleh administrator. Hal ini berkaitan erat dengan kebijakan TI dan prosedur perusahaan berkaitan dengan nama pengguna dan sandi nya.
b.      Pengendalian Input
Pengendalian input memastikan data-data yang dimasukkan ke dalam sistem telah tervalidasi, akurat, dan terverifikasi.
c.       Pengendalian Proses
Pengendalian proses biasanya terbagi menjadi dua tahapan, yaitu (1) tahapan transaksi, dimana proses terjadi pada berkas-berkas transaksi baik yang sementara maupun yang permanen dan (2) tahapan database, proses yang dilakukan pada berkas-berkas master.
d.      Pengendalian Output
Pada pengendalian ini dilakukan beberapa pengecekan baik secara otomatis maupun manual (kasat mata) jika output yang dihasilkan juga kasat mata.
e.       Pengendalian Berkas Master
Pada pengendalian ini harus terjadi integritas referensial pada data, sehingga tidak akan diketemukan anomali-anomali, seperti:
a.          Anomaly penambahan
b.          Anomaly penghapusan
c.          Anomaly pemuktahiran/pembaruan
c.       Hubungan Pengendalian Umum dan Aplikasi
Hubungan antara pengendalian umum dan aplikasi bersifat pervasif. Artinya apabila pengendalian umum terbukti jelek, maka pengendalian aplikasinya diasumsikan jelek juga, sedangkan bila pengendalian umum terbukti baik, maka diasumsikan pengendalian aplikasinya juga baik.

G.    Risiko Audit
a.       Risiko inheren adalah risiko yang berasal dari adanya kemungkinan kesalahan material yang dikandung oleh laporan keuangan yang diaudit
b.      Risiko pengendalian adalah risiko yang berasal dari adanya kemungkinan kesalahan yang berasal dari ketidakmampuan sistem intern untuk menemukan, menghindakan kesalahan secara dini
c.       Risiko deteksi adalah risiko yang berasal dari adanya kemungkinan auditor tidak menemukan kesalahan material sewaktu audit

Daftar Pustaka
http://devachibitha.blogspot.sg/2010/11/audit-pengolahan-data-elektronik.html


Senin, 09 Februari 2015

Soal Ujian Tengah Semester Tahun Akademik 2014/2015 (AKM II)

Mata Kuliah        : Akuntansi Keuangan Menengah II
Jurusan                : S1 Akuntansi

Soal 1
Berikut ini transaksi-transaksi PT. Jiwa Raga Kami selama tahun 2011
September 1
Membeli persediaan barang dagangan dari PT. Alam Hijau secara kredit sebesar RP 45.000.000. PT. Jiwa Raga Kami menggunakan metode pencatatan persediaan secara periodik.
Oktober 1
Menerbitkan wesel bayar untuk membayar pembelian kredit tanggal 1 September sebesar Rp 45.000.000 jangka waktu 12 bulan bunga 7%.
Oktober 1
Meminjam uang ke Bank Limbung sebesar Rp 44.000.000 dengan menerbitkan wesel bayar sebesar Rp 50.000.000 tanpa bunga jangka waktu 12 bulan.
Instruksi :
a.       Buat ayat-ayat jurnal atas transaksi-transaksi tersebut!
b.      Buat ayat-ayat jurnal penyesuaian pada tanggal 31 Desember 2011!
Soal 2
Tanggal 30 Juni 2010 PT. Subur Makmur menerbitkan obligasi dengan nilai nominal $200.000 tingkat bunga kupon 10% selama 5 tahun. Tingkat bunga efektif 12%. Bunga obligasi dibayar tiap tanggal 30 Juni dan 31 Desember.
Instruksi : Buatlah ayat jurnal untuk
a.       Penerbitan obligasi 30 Juni 2010
b.      Pembayaran bunga dan amortisasi premi 31 Desember 2011
c.       Pembayaran bunga dan amortisasi premi 30 Juni 2012
d.      Pembayaran bunga dan amortisasi premi 31 Desember 2012
NB: Lengkapi dengan perhitungan (skedul) perhitungan amortisasi dan premi !
        PV (10%, 5 tahun) = 0,621
        PV (12%, 5 tahun) = 0,567
        PVA (5%, 10 tahun) = 7,722
        PVA (6%, 10 tahun) = 7,360
Soal 3
PT Kenari mempunyai ekuitas pemegang saham per 1 Januari 2011 sebagai berikut (dalam ribuan) :
                Saham biasa, nilai nominal $5 diterbitkan 20.000 lembar                 $100.000
                Premi Saham Biasa                                                                                            300.000
                Laba ditahan                                                                                                        320.000
Selama tahun 2011, transaksi berikut telah terjadi :
1 Februari
PT Kenari membeli kembali 2.000 lembar saham treasuri pada harga $18 per saham
1 Maret
800 lembar saham treasuri yang dibeli kembali di atas dijual kembali dengan harga $17 per saham
18 Maret
500 lembar saham treasuri yang dibeli kembali di atas dijual kembali dengan harga $14 per saham
22 April
600 lembar saham treasuri yang dibeli kembali di atas dijual kembali dengan harga $20 per saham
Instruksi :

Buatlah ayat jurnal untuk mencatat transaksi saham treasuri dalam tahun 2011, dengan mengasumsikan bahwa PT Kenari menggunakan metode biaya (cost method)

Soal Ujian Tengah Semester Tahun Akademik 2014/2015 (Perekonomian Indonesia)

Mata kuliah        : Perekonomian Indonesia
Jurusan                : Akuntansi, IESP, Manajemen
Seiring dengan meningkatnya pendapatan perkapita dalam jangka waktu panjang, sebagai buah hasil dari pembangunan, maka berdasarkan hasil penelitian Chennery and Syrquin, biasanya akan diikuti oleh :
a.       Sumbangan sector pertanian yang semakin menurun terhadap PDB, sementara sumbangan sector non pertanian semakin meningkat.
b.      Pertumbuhan penduduk semakin kecil.
c.       Distribusi pendapatan yang semakin tidak merata pada awalnya dan kemudian semakin rata.

Mengapa ? Jelaskan !

Soal Ujian Tengah Semester Tahun 2014/2015 (Perilaku Organisasi)

Mata Kuliah        : Perilaku Organisasi
Jurusan                : Akuntansi

1.       Sebut serta uraikan ilmu-ilmu yang memberi kontribusi pada perilaku keorganisasian dan jelaskan tujuan mempelajari perilaku organisasi !
2.       Jelaskan mengapa sekarang ini organisasi begitu peduli dengan upaya pembelajaran !
3.       Sebut dan jelaskan cara-cara mengatasi stress baik secara individual maupun secara organisasional !
4.       Identifikasikan serta beri uraian dengan contoh-contoh hambatan-hambatan dalam komunikasi dan bagaimana cara manajer mengatasi hambatan tersebut !
5.       Jelaskan apa perbedaan kelompok dengan tim kerja dan mengapa manajer perlu memiliki pemahaman tentang perilaku kelompok ?

Rabu, 10 Desember 2014

Krisis Ekonomi Amerika Serikat Tahun 2008

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Negara Amerika Serikat merupakan negara maju yang dikenal sebagai pusat perekonomian di dunia. Amerika Serikat pun mencatat sejarah kelam dalam perekonomian karena mengalami krisis ekonomi pada tahun 2008 yang diawali dengan kebangkrutan Leman Brothers yang merupakan salah satu perusahaan investasi atau bank keuangan senior dan terbesar ke 4 di Amerika Serikat. Siapa yang menyangka suatu negara yang merupakan tembok kapitalis dunia akan runtuh , celakanya apa yang terjadi di Amerika Serikat dengan cepat menyebar dan menjalar keseluruh dunia.
Rakyat Amerika hidup dalam konsumerisme di luar batas kemampuan pendapatan yang diterimanya. Mereka hidup dalam hutang, belanja dengan kartu kredit, dan kredit perumahan. Akibatnya lembaga keuangan yang memberikan kredit tersebut bangkrut karena kehilangan likuiditasnya, karena piutang perusahaan kepada para kreditor perumahan telah digadaikan kepada lembaga pemberi pinjaman. Pada akhirnya perusahaan –perusahaan tersebut harus bangkrut karena tidak dapat membayar seluruh hutang-hutangnya yang mengalami jatuh tempo pada saat yang bersamaan. Runtuhnya perusahaan-perusahaan finansial tersebut mengakibatkan bursa saham Wall Street menjadi tak berdaya, perusahaan-perusahaan besar tak sanggup bertahan seperti Lehman Brothers dan Goldman Sachs. Krisis tersebut terus merambat ke sektor riil dan non-keuangan di seluruh dunia. Krisis keuangan di Amerika Serikat pada awal dan pertengahan tahun 2008 telah menyebabkan menurunnya daya beli masyarakat Amerika Serikat yang selama ini dikenal sebagai konsumen terbesar atas produk-produk dari berbagai negara di seluruh dunia. Penurunan daya serap pasar itu menyebabkan volume impor menurun drastis yang berarti menurunnya ekspor dari negara-negara produsen berbagai produk yang selama ini dikonsumsi ataupun yang dibutuhkan oleh industri Amerika Serikat. Oleh karena volume ekonomi Amerika Serikat itu sangat besar, maka sudah tentu dampaknya kepada semua negara pengekspor di seluruh dunia menjadi serius pula, terutama negara-negara yang mengandalkan ekspornya ke Amerika Serikat.
Krisis global berdampak dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, selain menyebabkan volume perdagangan global pada tahun 2009 merosot tajam, juga akan berdampak pada banyaknya industri besar yang terancam bangkrut, terjadinya penurunan kapasitas produksi, dan terjadinya lonjakan jumlah pengangguran dunia. Bagi negara-negara berkembang dan emerging markets, situasi ini dapat merusak fundamental perekonomian, dan memicu terjadinya krisis ekonomi.
Tahun 2008 dan 2009 merupakan tahun-tahun yang penuh tantangan bagi ekonomi dunia. Pada kedua tahun tersebut pertumbuhan ekonomi dunia akan menurun dari 4,9% pada tahun 2007 menjadi 3,7% pada tahun 2008 dan 3,8% pada tahun 2009. Penurunan kegiatan ekonomi dunia ini terutama disebabkan oleh akan melambatnya pertumbuhan ekonomi AS dari 2,2% pada tahun 2007 menjadi 0,5% pada tahun 2008 dan 0,6% pada tahun 2009. Pada periode yang sama dan sebagai akibat dari melambatnya pertumbuhan ekonomi AS, pertumbuhan ekonomi disemua negara-negara lain juga akan menurun. Kelompok negara-negara yang sudah maju akan menurun dari sebesar rata-rata 2,7% pada tahun 2007 menjadi 1,3% pada masing-masing tahun 2008 dan 2009. Kelompok negara-negara yang sedang membangun turun dari 7,9% pada tahun 2007 menjadi sekitar 6,7% pada dua tahun berikutnya. Suatu pola yang terlihat di sini adalah lebih besarnya tingkat penurunan yang terjadi pada negara-negara yang sudah maju (sekitar 50%) daripada di negara-negara yang sedang berkembang (hanya sekitar 15%). Terlihat dari perubahan pertumbuhan ekonomi tahun 2008 menunjukkan Pertumbuhan ekonomi dunia sepertinya masih bergantung pada kondisi perekonomian yang terjadi di negara Adidaya Amerika Serikat (AS).
1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana awal mula tarjadinya krisis ekonomi Amerika Serikat?
2.      Apa saja penyebab terjadinya krisis ekonomi Amerika Serikat?
3.      Apa saja dampak krisis ekonomi Amerika Serikat terhadap perekonomian Indonesia?
4.      Apakah peranan para akuntan ikut andil dalam krisis ini?
5.      Apakah kontribusi yang diberikan bidang akuntansi guna mencegah krisis tersebut?
6.      Apa saja kebijakan Bank Indonesia dalam menghadapi krisis ekonomi Amerika Serikat?

1.3  Tujuan
1.      Mengetahui awal mula terjadinya krisis ekonomi Amerika Serikat.
2.      Mengetahui sebab-sebab terjadinya krisis ekonomi Amerika Serikat.
3.      Mengetahui apa saja dampak terhadap perekonomian Indonesia.
4.      Mengetahui peranan para akuntan dalam krisis tersebut.
5.      Mengetahui kontribusi yang diberikan bidang akuntansi guna mencegah krisis tersebut.
6.      Mengetahui apa saja kebijakan Bank Indonesia dalam menghadapi krisis ekonomi Amerika Serikat.






BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Awal Mula Terjadinya Krisis Ekonomi Amerika Serikat
            Bermula dari tumbangnya beberapa perusahaan besar di Amerika yang bangkrut karena macetnya pembayaran kredit perumahan. Macetnya kredit mengakibatkan kerugian di pihak kreditor dan mengganggu aktivitas rangkaian sistem kerja keuangan Amerika Serikat dan dunia. Macetnya kredit mmembuat para investor ingin menarik investasinya dan membuat perolehan laba di lembaga keuangan menurun akibat adanya ketidakpercayaan konsumen.
Lehman Brothers Inc merupakan perusahaan sekuritas keempat terbesar di Amerika Serikat. Lehmanmenderita bangkrut karena tidak mampu membayar utang senilai 613 miliar dollar Amerika Serikat kepada kreditor. Kebangkrutan Lehman ini mempengaruhi banyak simpul ekonomi di berbagai negara. Karena Lehman Brother sebelumnya menerima suntikan dana dari para investor dari berbagai belahan dunia termasuk juga bank dunia yang memberikan pinjaman dana besar kepada Lehman dan kini terkena imbas kebangkrutan Lehman, yang akhirnya mulai mengganggu sistem keuangan dunia.
Maka dari itu kebangkrutan Lehman membuat Amerika Serikat menyuntikkan dana sebesar 70 miliar dollar AS, Bank Sentral Eropa 99,4 miliar dollar AS, Bank Inggris 35,6 miliar dollar AS, Bank Nasional Swiss 7,2 miliar dollar AS dan Bank Jepang 24 miliar dollar AS.
Berbagai suntikan dana di atas harus dilakukan oleh berbagai pihak untuk mengantisipasi kebangkrutan yang lebih parah lagi terhadap Lehman dan memberikan dana bagi para investor yang menarik investasinya. Suntikan dana juga bertujuan menjaga transaksi bisnis seperti pembiayaan perdagangan lintas dunia.
Kebangkrutan lainnya juga dialami Worldcom Inc dan Enron Corp dengan kasus yang mirirp dengan kebangkrutan yang dialami Lehman Brothers Inc.
Efek krisis global ekonomi yang diderita Amerika Serikat ini memiliki efek domino yang sangat kuat. Krisis ekonomi yang awalnya hanya diderita Amerika Serikaat saja kini mulai merembet ke negara lain terutama negara berkembang yang masih membutuhkan bantuan dana internasional, dengan adanya krisis ini secara langsung bantuan internasional akan dikurangi guna mencegah krisis ekonomi dunia yang berlarut-larut. Macetnya ekspor, hilangya likuiditas beberapa bank, pemutusan tenaga kerja, pudarnya kepercayaan investor dan konsumen, dan anjloknya perolehan laba di berbagai sektor keuangan karena adanya pemangkasan suku bunga, otomotif, penerbangan yang tidak kalah pentingnya ialah jatuhya berbagai indeks saham di berbagai bursa Eropa, Asia dan Amerika Serikat itu sendiri meruapakan dampak umum krisis global.
Krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat juga merupakan pemicu adanya resesi di bidang investasi, perdagangan, bantuan serta kepercayaan konsumen pada negara lain seperti India, Cina, Brasil dan Rusia. Negara lain yang terkena imbas nya juga ialah Jepang pada sektor ekspor yang anjlok, negara-negara di Eropa seperti Inggris, Belanda, Swiss yang penerimaan laba pada lembaga keuangannya ikut anjlok dan kehilangan likuiditasnya karena adanya ketidakpercayaan konsumen. Pada dasrnya semua negara yang pernah menjadi invetsor bagi Lehman termasuk bank dunia kini terkena imbas kebangrutan Lehman, hal itu berarti mereka juga merasakan krisis yang dialami Lehman di Amerika Serikat. Menghadapi itu semua negara-negara di dunia terus mengadakan upaya penyelamatan lewat dialog, melalui G-20, APEC, OPEC, dan berbagai organisasi lainnya
2.2 Penyebab Terjadinya Krisis Ekonomi Amerika Serikat
            Krisis ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya :
1.      Penumpukan hutang nasional hingga mencapai 8.98 trilyun dollar AS sedangkan PDB hanya 13 trilyun dollar AS
2.      Terdapat progam pengurangan pajak korporasi sebesar 1.35 trilyun dollar. (mengurangi pendapatan negara)
3.      Pembengkakan biaya Perang Irak dan Afganistan (hasilnya Irak tidak aman dan Osama Bin Laden tidak tertangkap juga) setelah membiayai perang Korea dan Vietnam.
4.      CFTC (Commodity Futures Trading Commision) sebuah lembaga pengawas keuangan tidak mengawasi ICE (Inter Continental Exchange) sebuah badan yang melakukan aktifitas perdagangan berjangka.Dimana ECE juga turut berperan mengdongkrak harga minyak hingga lebih dari USD 100/barel
5.      Subprime Mortgage: Kerugian surat berharga property sehingga membangkrutkan Merryl Lynch, Goldman Sachs, Northern Rock,UBS, Mitsubishi UFJ.
6.      Keputusan suku bunga murah dapat mendorong spekulasi.

Selain faktor di atas, terdapat faktor lain yang sangat berpengaruh terhadap timbulnya krisis ekonomi di Amerika Serikat, yaitu :
1.      Agresi Militer Amerika Serikat Ke Irak dan Afganistan.
Dengan ambisi yang besar untuk memberantas teroris yang telah meluluh lantakkan Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001, yang berhasil menghancurkan Word Trade Centre, Presiden Amerika bertekad untuk memburu orang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut dan akan menghancurkannya sampai ke akar-akarnya. Irak dan Afganistan yang menurut Amerika adalah negara yang merupakan sarang dan penyandang dana untuk kelompok teroris pun menjadi sasaran inovasi.
Kedua perang ini sampai sekarang masih terus berlangsung yang membutuhkan banyak dana sehingga pendanaan negara terfokus pada kedua perang tersebut, yang memaksa Presiden Amerika Serikat harus bolak-balik ke Kongres Amerika Serikat untuk menyakinkan kongres bahwa perang masih akan terus berlanjut dan masih membutuhkan tambahan banyak dana.
2.      Subprime Mortgage di sektor perumahan
Kata ”mortgage” berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis. Artinya: matinya sebuah ikrar (kalau di Indonesia perjanjian akad kredit ada perbedaan sedikit). Itu agak berbeda dari kredit rumah. Dalam mortgage, seseorang mendapat kredit. Lalu, memiliki rumah. Rumah itu di serahkan kepada pihak yang memberi kredit. Seseorang boleh menempatinya selama cicilan rumah tersebut belum lunas. Karena rumah itu bukan hak milik, begitu pembayaran mortgage macet, rumah itu otomatis tidak bisa di tempati dan harus pergi dari rumah tersebut. Begitu agresifnya para investment banking (perusahaan yang mirip Bank, karena perusahaan ini menerima berbagai macam deposito, tetapi tidak terikat dengan peraturan-peraturan perbankan), sehingga kalau dulu hanya orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage, yang kurang memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta mortgage. Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup seseorang. Orang yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas. Setiap tahun orang bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun. Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah lewat mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600. Bisa dengan terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematan pengeluaran. Disisi lain pengusaha ingin perusahaan tumbuh semakin besar dan mendapat laba yang tinggi, pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari mortgage yang seharusnya belum bisa tetapi dipaksakan dengan prinsip bila gagal bayar, rumah itu bisa disita. Setelah rumah disita, bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai pinjaman tetapi tidak pernah dipikirkan jangka panjangnya. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yang disita sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah yang memacu jatuhnya harga rumah ke level yang sangat rendah. Dengan turunnya harga rumah yang tidak sesuai dengan nilai pinjaman yang menyebabkan semakin banyak yang gagal bayar. Bank atau investment banking yang memberi pinjaman menjaminkan rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain, yang lain itupun menjaminkan ke yang lainnya lagi. Sehingga setelah terjadi kredit itu macet maka semua lembaga-lembaga penjamin itu ambruk secara berurutan sebagai layaknya kartu domino yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain, roboh semua. Lalu, apa hubungannya dengan bangkrutnya investment banking seperti Lehman Brothers? Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya karena fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh ”para pelaku bisnis keuangan” sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan meningkatkan laba. Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli rumah. Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank. Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para pemilik rumah, yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage-kan lagi untuk membeli rumah berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah pun bisa mendapatkan kredit dengan harapan harga rumahnya terus naik. Kalau suatu saat ada yang tidak bisa bayar, bank masih untung. Jadi, tidak ada kata takut dalam memberi kredit rumah. Dengan kebebasan ini perusahaan ini menjamin pinjaman-pinjaman pada sub-prime mortgage yang menyebankan mereka terseret dalam kredit macet di sektor perumahan yang pada akhirnya perusahaan harus gulung tikar secara berurutan.
3.      Neraca keuangan yang tidak sehat.
Buruknya kinerja lembaga-lembaga keuangan Amerika Serikat ikut andil dalam krisis yang terjadi, dan diperparah dengan laporan badan-badan independen yang seharusnya memberikan analisis objektif mengenai sektor-sektor ekonomi di Amerika Serikat juga ikut dimanipulasi sedemikian rupa untuk menciptakan sentimen positif terhadap sektor perumahan namun tanpa disertai safeguard ekonomi yang memadai. Akibatnya muncul banyak kegagalan pembayaran kredit oleh para kreditor. Sebagai efek dominonya, pihak ketiga penopang kredit (yaitu badan-badan keuangan swasta) yang telah berinvestasi ratusan juta dolar banyak yang mengalami kerugian sangat besar dari sektor ini. Himpunan dana yang tadinya dibutuhkan untuk menggerakkan roda perekonomian Amerika Serikat kini tersendat dan tidak dapat diputar kembali untuk investasi. Akibatnya terjadi krisis finansial di dalam negeri yang memicu perlambatan pertumbuhan ekonomi dan berpotensi untuk meruntuhkan fondasi ekonomi Amerika
4.      Telalu Overconfidance dalam penyaluran kredit.
Karena terlalu percaya diri dalam penyaluran kredit, khususnya pada sektor perumahan sehingga orang / badan usaha yang memiliki reputasi buruk sekalipun masih mendapatkan kredit yang menyebabkan kridit besar-besaran mengalir begitu saja kepada para kreditor yang bermasah. Hal ini tentu saja akan memacu timbulnya kredit macet. Terjadinya kredit macet di sektor perumahan (sub-prime mortgage) yang menyeret terjadinya kredit macet di perbankan dan memaksa the FED (Bank Sentral Amerika Serikat) untuk menurunkan suku bunga hingga 2%. Krisis yang terjadi di awal tahun 2008 tersebut memicu kenaikan harga minyak mentah dunia hingga mencapai rekor tertingginya di bulan Mei sebesar 147 USD/barel. Akan tetapi, krisis yang terjadi belum berakhir. Naiknya harga minyak mentah dunia membuat dunia usaha mulai kualahan dan daya beli konsumen semakin menurun, sehingga menyebabkan keragu-raguan dan ketidak pastian pasar. Kredit macet perumahan tersebut akhirnya melibas dua nama besar perusahaan di sektor finansial, Merrill Lynch dan Lehman Brothers. Harga saham di bursa saham USA (Wall Street) dan dunia mulai mengalami penurunan dan mulai memicu krisis yang berdampak pada kolapsnya bank-bank investasi maupun perusahaan-perusahaan asuransi dunia. Saat itulah Pemerintah USA menyadari bahwa krisis tersebut sudah tidak dapat dibendung, dan meminta Kongres USA menyetujui dana talangan USD 700 miliar untuk menolong sektor keuangan. Namun, langkah tersebut sudah terlambat karena kepanikan di pasar modal sudah melanda seluruh dunia, termasuk Indonesia.      
2.3 Dampak Krisis Amerika Serikat terhadap Perekonomian Indonesia
1.      Kinerja neraca pembayaran yang menurun
Pada saat terjadi krisis global, negara adidaya Amerika Serikat mengalami resesi yang serius, sehingga terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi yang selanjutnya menggerus daya beli masyarakat Amerika. Hal ini sangat mempengaruhi negara-negara lain karena Amerika Serikat merupakan pangsa pasar yang besar bagi negara-negara lain termasuk Indonesia. Penurunan daya beli masyarakat di Amerika menyebabkan penurunan permintaan impor dari Indonesia. Dengan demikian ekspor Indonesia pun menurun. Inilah yang menyebabkan terjadinya defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Bank Indonesia memperkirakan secara keseluruhan NPI mencatatkan defisit sebesar US$ 2,2 miliar pada tahun 2008.
Penyebab lain terjadinya defisit NPI adalah derasnya aliran keluar modal asing dari Indonesia khususunya pada pasar SUN (Surat Utang Negara) dan SBI (Sertifikat Bank Indonesia). Derasnya aliran modal keluar tersebut menyebabkan investasi portofolio mencatat defisit sejak kuartal III-2008 dan terus meningkat pada kuartal IV-2008. Selain itu, adanya sentimen negatif terhadap pasar keuangan global juga membuat terjadinya pelepasan aset finansial oleh investor asing dan membuat neraca finansial dan modal ikut menjadi defisit.
2.      Tekanan pada nilai tukar rupiah
Secara umum, nilai tukar rupiah bergerak relatif stabil sampai pertengahan September 2008. Hal ini terutama disebabkan oleh kinerja transaksi berjalan yang masih mencatat surplus serta kebijakan makroekonomi yang berhati-hati. Namun sejak pertengahan September 2008, krisis global yang semakin dalam telah memberi efek depresiasi terhadap mata uang. Kurs Rupiah melemah menjadi Rp 11.711,- per USD pada bulan November 2008 yang merupakan depresiasi yang cukup tajam, karena pada bulan sebelumnya Rupiah berada di posisi Rp 10.048,- per USD.
Semasa Pemerintahan Orde Baru, Indonesia menganut sistem fixed exchange rateatau sistem nilai tukar tetap. Tetapi pada Pemerintahan berikutnya sampai sekarang, sistem yang dianut telah berubah menjadi sistem floating exchangerate atau sistem nilai tukar mengambang. Dengan sistem ini nilai tukar rupiah menjadi bergantung pada supply dan demand di pasar. Hal ini berbeda dengan sistem fixed exchange rate dimana Bank Indonesia berkewajiban menjaga Rupiah konstan dengan aktif membeli dan menjual valas untuk menghadapi supply dandemand yang berubah-ubah.
Pada masa krisis global yang terjadi sejak beberapa waktu yang lalu, terjadi keketatan likuiditas global, dengan demikian supply dollar relatif sangat menurun. Hal inilah yang memberikan efek depresiasi terhadap Rupiah. Keketaatan likuiditas global terjadi akibat perusahaan dan rumah tangga lebih menjaga likuiditasnya untuk berjaga-jaga dari berbagai resiko bisnis yang meningkat akibat krisis global. Hal ini yang menyebabkan sulitnya mencari dana talangan dalam membiayai defisit anggaran pemerintah. Rumah tangga konsumen pun mulai menahan diri untuk berbelanja guna mengantisipasi terhadap goncangan yang mungkin terjadi. Keketatan likuiditas diperparah oleh sikap bank yang terlalu berhati-hati dalam mengucurkan kreditnya dalam rangka meminimalisir terjadinya kredit macet.
Sebenarnya depresiasi Rupiah menguntungkan kondisi dalam negeri, karena secara teoritis akan meningkatkan daya saing produk dalam negeri. Harga-harga produk dalam negeri menjadi relatif lebih murah apabila dibandingkan dengan harga-harga produk sejenis yang diimpor dari negara lain. Di pasar negara tujuan ekspor Indonesia, konsumen akan lebih memilih produk dari Indonesia karena harganya lebih murah. Kondisi ini menyebabkan ekspor Indonesia meningkat. Namun hal itu tidak terjadi karena negara lain juga mengalami hal yang sama seperti Indonesia dimana mata uangnya juga mengalami depresiasi. Krisis global membuat daya beli masyarakat di setiap negara pada umumnya menurun. Sehingga Depresiasi tidak serta merta membuat ekspor Indonesia meningkat, bahkan ekspor justru turun.  Berdasarkan laporan BPS awal Maret 2009 lalu, disebutkan bahwa nilai ekspor Indonesia pada Januari 2009 hanya sebesar USD 7,15 miliar. Angka ini turun 17,7% dibandingkan nilai ekspor pada Desember 2008 sebesar USD 8,69 miliar. Bahkan, jika dibandingkan dengan Januari 2008, nilai penurunannya lebih besar lagi, yakni sebesar 36%.
3.      Dorongan pada laju inflasi
Dorongan tersebut berasal dari lonjakan harga minyak dunia yang mendorong dikeluarkannya kebijakan subsidi harga BBM. Tekanan inflasi makin tinggi akibat harga komoditi global yang tinggi. Namun inflasi tersebut berangsur menurun di akhir tahun 2008 karena harga komoditi yang menurun dan penurunan harga subsidi BBM.
Penyebab lain dari terus menurunnya tingkat inflasi adalah kebijakan Pemerintah menurunkan harga BBM jenis solar dan premium pada Desember 2008, dan produksi pangan dalam negeri yang relatif bagus. Bahkan awal Desember 2008 terjadi deflasi sebesar 0,04 persen. Deflasi tersebut terjadi karena menurunnya harga pada sektor transportasi, konsumsi, dan jasa keuangan. Keberhasilan menurunkan inflasi secara berangsur-angsur tak lepas dari keberhasilan instansi terkait dalam memitigasi akselerasi ekspektasi inflasi yang sempat meningkat tajam pasca kenaikan harga BBM. Secara keseluruhan, inflasi IHK pada tahun 2008 mencapai 11,06 persen, sementara inflasi inti mencapai 8,29 persen.
2.4 Peranan Akuntan dalam Krisis Global
Akuntan sangat berperan dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam perekonomian suatu negara. Indonesia merupakan negara yang terkena dampak cukup ringan dalam terjadinya krisis global tahun 2008, namun ditetapkan harus dapat mengantisipasi keuangan negara dengan salah satu cara melakukan perbaikan sistem keuangan. Pelaksanaan perbaikan sistem keuangan dapat terjadi dengan adanya partisipasi seluruh akuntan Indonesia. Perbaikan sistem keuangan itu menyangkut berbagai aspek, yaitu:
1.        Menuju sistem pembukuan dan anggaran akrual untuk mengungkapkan hak dan kewajiban kontijensi serta perencanaan jangka panjang berbasis kinerja;
2.        Mewujudkan sistem pembukuan keuangan negara yang terpadu (TSA-Treasury Single Account);
3.        Menggunakan sistem aplikasi teknologi komputer yang terintegrasi;
4.        Melakukan inventarisasi serta penilaian kembali aset maupun hutang negara;
5.        Memenuhi jadwal penyusunan laporan keuangan dan pemeriksaan serta pertanggungjawaban anggaran negara sebagaimana diatur dalam Paket Tiga UU Keuangan Negara Tahun 2003-2004;
6.        Meningkatkan quality assurance oleh pengawas internal, dan
7.        Meningkatkan mutu sumber daya manusia (SDM) dalam bidang akuntansi dan pengelolaan keuangan negara.
2.5 Kontribusi Bidang Akuntansi dalam Mencegah Krisis Global
Akuntansi merupakan bagian dari proses pengelolaan sistem keuangan yang terjadi di Indonesia. Proses yang benar tentunya akan menghasilkan laporan keuangan negara yang tepat. Oleh sebab itu, negara yang memiliki pelaksanaa akuntansi yang sehat dan kuat akan menghasilkan negara yang memiliki perekonomian yang baik pula. Beberapa prinsip akuntansi dalam melaksanakan terjadinya pencegahan krisis global, sebagai berikut :
1.        Akuntabilitas. Akuntabilitas berorientasi pada hasil. Hal ini merupakan landasan penerapan anggaran berbasis kinerja. Artinya, dalam pertanggungjawaban Keuangan Negara, akan dilihat kinerja apa yang telah dicapai oleh Pemerintah dalam menghabiskan dana APBN/APBD. Jika tidak ada kinerja yang dicapai maka tidak boleh se-sen-pun uang Negara dibelanjakan.
2.        Profesionalitas. Karena uang Negara merupakan uang rakyat yang harus bernilai maksimal (value for money) bagi kesejahteraan masyarakat, bukan hanya kesejahteraan aparatur Negara. Oleh karena itu, pengelolaan Keuangan Negara harus dikelola secara professional. Penerapan sistem akuntansi keuangan harus benar-benar diterapkan baik untuk APBN maupun APBD.
3.        Keterbukaan dalam pengelolaan keuangan Negara. Rakyat berhak tahu kemana dan untuk apa anggaran Negara dibelanjakan. Dalam pertanggungjawaban Keuangan Negara, masyarakat perlu diberikan hak untuk mengetahui pertanggungjawaban Keuangan Negara yang dilakukan oleh Negara atau daerah. Minimal, Laporan Pertanggungjawaban Pemerintah perlu dipublikasikan sehingga masyarakat dapat menilai pertanggungjawaban tersebut.
4.        Pemeriksaan keuangan oleh badan pemeriksa yang bebas dan mandiri. Ini merupakan amanah baru bagi BPK-RI terutama untuk memeriksa pertanggungjawaban kepala daerah yang sebelumnya tidak ada kewajiban tersebut. Sebelum laporan pertanggungjawaban Pemerintah (Perhitungan Anggaran Negara) dan laporan pertanggungjawaban kepala daerah disampaikan kepada DPR/DPRD, wajib diperiksa terlebih dahulu oleh BPK-RI.
5.        Keuangan Negara dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggungjawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan.6. APBN/APBD mempunyai fungsi otorisasi, perencanaan, pengawasan, alokasi, distribusi, dan stabilisasi. Hal berikutnya mengenai audit Keuangan Negara. Audit keuangan Negara dalam peket UU tentang Keuangan Negara ditetapkan dengan UU 15/2004. Dari UU tersebut, secara jelas Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) diamanahi suatu tugas berat yaitu melakukan pemeriksaan (audit) atas pengelolaan dan tanggung jawab seluruh unsur keuangan negara. Beberapa hal yang dirasakan sebagai kemajuan dari penetapan UU Pemeriksaan tersebut antara lain:1. BPK diberikan kebebasan dan kemandirian dalam menentukan obyek pemeriksaan, perencanaan dan pelaksanaan, penyusunan dan penyajian laporan audit. Meskipun demikian, lembaga perwakilan (DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota) dapat memberikan saran dan mengadakan pertemuan konsultasi dengan BPK dalam perencanaan tugas pemeriksaan.
6.        Ada dua hal yang berkaitan dengan keuangan Negara yaitu pengelolaan keuangan Negara dan tanggung jawab keuangan Negara. Pengelolaan keuangan Negara adalah keseluruhan kegiatan pejabat pengelola keuangan Negara sesuai dengan kedudukan dan kewenangannya, yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban. Dengan demikian, pejabat pengelola keuangan Negara akan memegang amanah bukan hanya dalam pelaksanaan, akan tetapi juga dari perencanaan sampai pertanggungjawabannya. Tanggung-jawaban keuangan Negara adalah kewajiban pemerintah untuk melaksanakan pengelolaan keuangan Negara secara tertib, taat pada peraturan perundangan, efisien, ekonomis, efektif, dan transparan dengan memperhatikan asas keadilan dan kepatutan.
7.        Apabila bidang akuntansi telah memberikan kontribusi yang baik dalam mengelola keuangan negara dan tanggung jawab atas pengelolaan tersebut, maka Indonesia akan memiliki ketahanan perekonomian yang cukup kuat dalam mencegah ataupun menghadapi krisis keuangan global di masa yang akan datang.
2.6 Kebijakan Bank Indonesia dalam Menghadapi Krisis Ekonomi Amerika Serikat
Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter yang mempunyai independensi dari pemerintah mempunyai kewajiban menjaga stabilitas moneter serta mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang dapat meminimalisir dampak dari krisis global. Bank Indonesia telah menerapkan beberapa kebijakan, yakni:
1.      Kebijakan dalam sekor moneter
BI mengarahkan kebijakan penurunan inflasi yang didorong oleh tingginya permintaan agregat dan dampak lanjutan dari kenaikan harga BBM yang sempat mendorong inflasi mencapai 12,14% pada bulan September 2008. Untuk mengantisipasi berlanjutnya tekanan inflasi, BI menaikkan BI rate dari 8 persen secara bertahap menjadi 9,5 persen pada Oktober 2008. Dengan kebijakan moneter tersebut ekspektasi inflasi masyarakat tidak terakselerasi lebih lanjut dan tekanan neraca pembayaran dapat dikurangi.
2.      Kebijakan dalam sekor perbankan
Kebijakan tersebut diarahkan pada upaya memperkuat ketahanan sistem perbankan, khususnya dalam upaya persiapan implementasi Basel II. Basel II dibuat berdasarkan struktur dasar the 1988 accord  yang memberikan kerangka perhitungan modal yang bersifat lebih sensitif terhadap risiko (risk sensitive) serta memberikan insentif terhadap peningkatan kualitas penerapan manajemen risiko di bank. Hal ini dicapai dengan cara penyesuaian persyaratan modal dengan risiko dari kerugian kredit dan juga dengan memperkenalkan perubahan perhitungan modal dari eksposur yang disebabkan oleh risiko dari kerugian akibat kegagalan operasional.
Kebijakan dalam sektor perbankan lainnya adalah meningkatkan kapasitas pelayanan industri perbankan syariah. Sistem perbankan syariah terbukti lebih tahan terhadap hantaman krisis. Sistem perbankan ini juga sudah mulai digiatkan oleh negara-negara non-muslim seperti Inggris, Italia, Hong Kong, China, Malaysia, dan Singapura. Bahkan menurut anggota Komite Ahli Bank Indonesia, perbankan syariah tetap stabil di saat krisis global berlangsung dikarenakan perbankan syariah merupakan pilihan yang komprehensif, progresif, dan menguntungkan.
3.      Kebijakan dalam sekor pembayaran
Bank Indonesia turut berupaya mencegah terjadinya guliran krisis global terhadap kelancaran sistem pembayaran nasional. Dalam mencegah risiko sistemik dari risiko gagal bayar peserta yang cenderung meningkat pada kondisi krisis dan menjaga kelancaran sistem pembayaran, BI telah melakukan perubahan jadwal setelmen sistem pembayaran pada hari tertentu.
Kebijakan BI dalam sistem pembayaran terus dilakukan untuk meningkatkan pengedaran uang yang cepat, efisien, aman, dan handal, meningkatkan layanan kas prima, dan meningkatkan kualitas uang. Sementara kebijakan non tunai diarahkan untuk memitigasi risiko sistem pembayaran melalui pengawasan sistem pembayaran, mengatur kegiatan money remittances, meningkatkan efisiensi pengelolaan rekening pemerintah, dan meningkatkan pembayaran non tunai.
Sebagai Bank Sentral, BI memang mempunyai tanggung jawab dalam membuat kebijakan-kebijakan dalam menstabilkan kondisi moneter Indonesia. Dengan demikian diharapkan kebijakan-kebijakan yang dibuat BI merupakan kebijakan yang strategis dan tepat sasaran dalam meminimalisir dampak krisis keuangan. Kebijakan moneter yang diambil BI juga diharapkan dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap sektor riil dan selanjutnya pada kesejahteraan masyarakat.



















BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Saat terjadi krisis global di Amerika Serikat tahun 2008, Indonesia menjadi salah satu negara yang menerima dampak cukup ringan dibanding dengan negara-negara lainnya terutama negara maju di kawasan Eropa. Hal ini disebabkan, Indonesia melakukan diversifikasi terhadap pangsa pasar ekspor, sehingga peran Amerika Serikat dan Uni Eropa semakin menurun. Mengidentifikasi kondisi keuangan Indonesia saat krisis global 2008. Bahkan terjadinya depresiasi Rupiah menguntungkan kondisi dalam negeri, karena secara teoritis akan meningkatkan daya saing produk dalam negeri. Harga-harga produk dalam negeri menjadi relatif lebih murah apabila dibandingkan dengan harga-harga produk sejenis yang diimpor dari negara lain. Di pasar negara tujuan ekspor Indonesia, konsumen akan lebih memilih produk dari Indonesia karena harganya lebih murah. Kondisi ini menyebabkan ekspor Indonesia meningkat.
Peran Akuntan menjadi salah satu pendukung dalam menahan dampak krisis global terhadap perekonomian Indonesia. Para Akuntan terus berupaya dalam melaksanakan prinsip Akuntansi yang memberikan suatu ketahanan bagi perusahaan-perusahaan untuk terus mampu bersaing dalam kegiatan ekspor. Para Akuntan juga menerapkan prinsipnya dalam sistem keuangan negara.
Bidang Akuntansi memberikan kontribusi yang cukup signifikan guna mencegah terjadinya krisis di Indonesia. Kontribusi tersebut tampak dalam dua hal, yaitu pengelolaan keuangan Negara dan tanggung jawab keuangan Negara. Kedua hal tersebut apabila dapat terlaksana akan memberikan kekuatan dan ketahanan terhadap perekonomian Indonesia dalam menghadapi adanya krisis global di masa yang akan datang.







DAFTAR PUSTAKA